Saturday, 9 December 2017

Arggg! Setelah Menetas, Ribuan Anak Itik Jantan di China Direbus Hidup-hidup, Alasannya Bikin Geram





Mereka kecil, berbulu lembut dengan fisik yang super menggemaskan. Yups, itulah gambaran yang pas bagi anak itik. Setelah dilahirkan, tentu saja mereka punya peluang untuk tumbuh besar, namun sayangnya hal ini tidak terjadi di China.

Di Negeri Tirai Bambu ini, anak itik jantan harus menghadapi akhir hidup yang tragis, setelah dilahirkan. Yups, ribuan anak itik jantan ini dibunuh setiap hari karena mereka dianggap tidak berguna. Mirisnya lagi, anak itik ini direbus dalam air mendidih dalam keadaan hidup-hidup, guys.

Dilansir TribunTravel dari laman Dailymail, Jumat (24/2/17), seorang wartawan bernama Li Gen, mendokumentasikan proses bagaimana pekerja di sebuah tempat penetasan membunuh ribuan anak itik ini.


Awalnya, seorang pekerja menempatkan beberapa puluh itik pada sebuah jaring. Ia kemudian menempatkan jaring dengan puluhan anak itik, dalam wajan panas yang berisi air mendidih. Untuk memastikan anak itik terendam sepenuhnya, ia bahkan menggunakan bantuan tongkat kayu. Li Gen mengatakan bahwa proses ini biasanya dilakukan saat unggas berumur kurang dari empat hari.

Hewan-hewan yang telah mati ini lantas dijual kepada peternak ular ataupun sebagai bahan memasak. Foto-foto ini diambil pada 16 Februari pada sebuah tempat penetasan yang tidak disebutkan namanya di Desa Tongqiao, Kota Xidu, provinsi Hunan. Setelah telur menetas, pegawai segera memisahkan unggas sesuai jenis kelamin, dan kemudian memasukkannya ke dalam box.

Anak itik betina akan dijual, sedangkan anak itik jantan akan menghadapi akhir yang tragis. Anak itik jantan ini akan dibunuh karena tidak ada seorangpun yang mau membeli.

Selain itu, bagi mereka biaya untuk penatasan dan penghidupan juga dinilai terlalu besar. Merebus dianggap cara yang paling ekonomis daripada harus mengubur hidup-hidup.

Praktik pembasmian ini dianggap sebuah praktik mengerikan yang mengadopsi praktik barbar. Peter J. Li, dari Humane Society International, mendesak masyarakat untuk lebih memperhatikan praktik kekejaman dalam industri peternakan unggas ini.
Duh, ngeri banget ya guys.

Tak Dapat Uang Pensiun Tentara, Pria 88 Tahun Tetap Berjuang Untuk Cucu Yang Idap Penyakit Langka



Toton, kakek asal Pangandaran, Jawa Barat ini tak dapat menikmati masa tua seperti yang biasa diidam-idamkan orang-orang seusianya. Biasanya orang mengharap tenang dan sejahtera dan cukup di hari tuanya. Namun Toton hanya berharap kesembuhan cucunya yang mengidap penyakit langka ini.

Sehari-hari kakek yang telah berusia 88 tahun ini ia dedikasikan untuk merawat cucunya, Syifa, yang menderita Malabsorption Syndrome, yakni sebuah kelainan di mana usus halus tidak bisa menyerap cukup nutrisi dan cairan tertentu.



Syifa kini nampak hanya memiliki tulang dan kulit. Ia tak mampu berkegiatan selayaknya anak remaja usianya. Kini Syifa telah berusia 17 tahun dan penyakit ini telah dideritanya sejak lahir.

Lebih sedih lagi, kedua orangtua Syifa telah tiada semenjak ia masih bayi. Ayahnya meninggal ketika Syifa berusa 5 bulan karena kecelakaan. Dan ibunya menyusul meninggal 3 bulan kemudian. Semenjak itulah Syifa dirawat oleh kakeknya.

Sehari-hari Toton bekerja sebagai petan sayur dan menjual sayurannya. Meski ia adalah pensiunan tentara, namun Toton tidak menerima sepeserpun uang pensiunan tentara. 

Meski kini ia telah renta, namun ia rela lakukan apapun demi cucunya.